BogorInNews – Sebanyak puluhan mahasiswa Universitas Djuanda (Unida) bersama masyarakat Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor menggelar kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengusung tema ‘Sinergi Iman dan Lingkungan: Mahasiswa Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Djuanda Bangun Ekosistem Peduli Bumi di Cinagara’.
Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini menjadi wujud nyata komitmen Unida sebagai Kampus Bertauhid dalam mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Rangkaian kegiatan yang dilakukan mahasiswa meliputi penanaman puluhan bibit pohon di area rawan longsor, sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga melalui pembuatan eco enzyme, serta penyuluhan tentang sanitasi kandang ternak bagi warga peternak.
Seluruh program ini dirancang untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Unida dalam mengimplementasikan SDGs, khususnya SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDG 15 tentang ekosistem daratan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.
Kepala Desa Cinagara, Burhanuddin menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa Unida. Ia menegaskan bahwa program ini selaras dengan upaya pembangunan desa yang berkelanjutan. Pihaknya juga sangat berterima kasih kepada Unida yang telah memilih Desa Cinagara sebagai tempat pengabdian. Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam pohon atau mengolah sampah, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.
“Saya berharap semangat ini menjadi contoh bagi desa-desa lain di Caringin bahwa iman dan kepedulian terhadap SDGs bisa berjalan beriringan. Mari kita rawat bumi kita karena bumi adalah rumah kita bersama,” ungkap Burhanuddin dalam keterangan tertulis pada Selasa (18/8/2026).
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus dosen pembimbing lapangan dari Unida, Radif Khotamir Rusli menuturkan, bahwa pengabdian ini merupakan bagian dari implementasi program Hibah Diktisaintek Berdampak yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Kami tidak ingin kegiatan ini hanya seremonial belaka. Kami membawa misi besar untuk menanamkan kesadaran bahwa setiap aksi kecil yang kita lakukan adalah kontribusi nyata kita terhadap target SDGs global. Sebagai akademisi dan insan beriman, kami memiliki tanggung jawab moral untuk mentransfer ilmu sekaligus menggerakkan masyarakat,” tuturnya dalam keterangan tertulis pada Selasa (18/8/2026).
Radif menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa hibah Diktisaintek Berdampak mampu mendorong terciptanya inovasi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. Bahwa riset dan pengabdian di Unida diarahkan pada integrasi nilai tauhid dalam setiap proses keilmuan serta kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs.
“Selama kegiatan berlangsung, antusiasme warga terlihat tinggi. Mereka dengan aktif bertanya dan mempraktikkan langsung cara membuat eco enzyme dari sisa kulit buah dan sayuran. Warga juga dilibatkan dalam penentuan titik-titik penghijauan yang strategis untuk mencegah erosi dan longsor, mengingat kondisi geografis Cinagara yang berbukit,” jelasnya.
Radif berharap agar ekosistem peduli bumi yang telah dibangun selama pengabdian ini tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus.
“Kami hanya pemantik. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Desa Cinagara, terutama generasi muda, bisa melanjutkan dan mengembangkan sendiri program-program ini. Sinergi iman dan lingkungan adalah fondasi, dan SDGs adalah peta jalannya,” terangnya.
“Jika keduanya berjalan bersama, maka masa depan desa yang hijau, sehat, dan sejahtera bukanlah mimpi. Dukungan dari program Hibah Diktisaintek Berdampak telah membuktikan bahwa pendanaan riset yang tepat sasaran mampu melahirkan solusi nyata bagi persoalan di tingkat desa,” pungkas Radif.
Diketahui para warga bergembira karena selama ini hanya membuang sampah dapur tanpa tahu bahwa sampah tersebut bisa diubah menjadi cairan multiguna yang ramah lingkungan.(REK)



















