Bogor RayaKota Bogor

Pemkot Bentuk Kencana, Cuaca ekstrem dan Antisipasi Fenomena ‘La Nina Godzilla’

BogorInNews – Pemkot Bogor resmi mendeklarasikan program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) di kantor BPBD Kota Bogor, Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sareal pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas anomali cuaca ekstrem dan peringatan fenomena ‘La Nina Godzilla’ yang diprediksi melanda Indonesia tahun ini.

​Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Sekretaris Daerah Denny Mulyadi, Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil perwakilan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) serta jajaran unsur pimpinan daerah dari Polresta Bogor Kota dan Kodim 0606/Kota Bogor. Deklarasi ini melibatkan penguatan peran dari 6 camat dan 68 lurah Se-Kota Bogor.

​Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengungkapkan kekhawatirannya terhadap rilis BMKG terkait kondisi iklim tahun 2026. Meski sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau panjang akibat El Nino, wilayah Bogor justru mengalami pengecualian dengan curah hujan yang sangat tinggi.

​”Ada anomali yang harus kita waspadai. Saat daerah lain masuk kemarau panjang, Bogor justru diprediksi akan terus diguyur hujan. Kita sudah merasakan curah hujan ekstrem di atas 120 mm per hari. Ini bukan lagi sekadar perubahan iklim (climate change), tapi sudah masuk situasi bencana iklim (climate disaster),” ungkap Dedie.

​Dedie menuturkan, hingga April 2026 ini, Kota Bogor telah mencatatkan 372 kejadian bencana dari rata-rata 1.000 kejadian per tahun. Angka ini mencakup tanah longsor, tanah bergerak, banjir lintasan, puting beliung, hingga pohon tumbang.

Dedie menekankan, pentingnya kesiapan mental bagi para aparatur wilayah dan menginstruksikan para camat serta lurah untuk memiliki semangat pengabdian yang setara dengan pimpinan kota dalam menangani berbagai persoalan publik, khususnya kebencanaan.

​”Kesiapan mental para lurah di Kota Bogor harus sama dengan kesiapan mental wali kota. Bapak dan Ibu adalah ‘Walikota’ di wilayah masing-masing. Tugas ini sifatnya atributif dan terintegrasi. Tanpa semangat pengabdian dan pengorbanan yang sama, mustahil kita bisa mewujudkan Kecamatan Tangguh Bencana,” tegas Dedie.

​Dedie menjelaskan, peran aparat wilayah tidak hanya terbatas pada penanggulangan bencana, tetapi juga mencakup isu persampahan, sosial, pendidikan, hingga kesehatan secara menyeluruh. Selain kesiapan fisik, ia menekankan pentingnya disiplin masyarakat. Bencana seperti banjir lintasan sangat dominan dipicu oleh perilaku membuang sampah sembarangan.

“Oleh karena itu, saya meminta aparatur wilayah menggencarkan strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada warga. Selaras dengan arahan Kemendagri, saya menginstruksikan pelaksanaan kegiatan kerja bakti atau korve dilakukan secara rutin minimal dua kali dalam seminggu untuk membersihkan titik-titik sumbatan drainase,” jelasnya.

​”Kita tidak boleh pasif dan hanya menunggu informasi dari media sosial. Saya minta para Camat dan Lurah secara konsisten melakukan pengeroyokan masalah di wilayah. Laksanakan mitigasi sebelum bencana terjadi. Jika komunikasi dan edukasi berjalan baik, beban kita di lapangan tidak akan terlalu berat,” terang Dedie.(NDI)

Exit mobile version